Ivy berdecak ketika mendapati pesan mendadak dari kakak perempuannya yang berkata berhalangan untuk menjemput dirinya di tempat les. Ivy melirik ke arah jam dinding, sudah jam sepuluh malam—yang di mana taksi sudah tak lagi berkeliaran di daerahnya, hal itu memaksa Ivy harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Ivy terdiam sejenak, menatap pantulan tubuhnya di cermin besar yang mengelilingi seluruh dinding ruangan ini. Wajahnya terlihat ... sedikit pucat, dari biasanya.
Satu tangannya seolah terangkat sendiri menyentuh pipi, mengusap lembut dengan alur santai. Alisnya menukik bingung ketika sadar dirinya seolah-olah sedang dikendalikan bak robot. “Huh?” gumamnya seperti hampir berbisik.
Lampu terang yang tadinya menerangi ruangan ini mendadak menjadi cukup suram—mungkin sudah harus mengganti dengan yang baru, batinnya. Tak berselang lama dari hal itu, lampu-lampu di langit ruangan berkedip secara cepat.
Serangan panik mulai menerjang dirinya, ada rasa ... takut? Namun segera Ivy singkirkan, dia menyambar tas ranselnya dan segera pergi dari sana. Tetapi belum sampai menyentuh knop pintu, suara seberat logam dari sepatu flared ini terdengar lebih keras di atas lantai parket seakan itu bukanlah ketukan kaki manusia biasa. Glup! Ivy menelan salivanya, tak berniat menoleh ke belakang tepat di mana sumber suaranya berasal. Seingatnya, hanya tinggal Ivy yang masih di ruang latihan—semua temannya sudah pulang lebih dulu belasan menit lalu.
Iramanya tertata rapi, Ivy bisa mendengarkan itu dengan baik.
Ivy tentu menyadari satu hal, bahwasanya seseorang yang berada jauh di belakangnya itu adalah sesosok—alias bukan manusia asli. Dengan keberanian 0,0001% Ivy memutar tubuhnya ke belakang. Kedua matanya masih terpejam, samar-samar cahaya lampu temaram masuk ke celah matanya. Bisa dirinya lihat dengan sangat jelas, seorang wanita mengenakan gaun latin berwarna merah menyala yang mengkilap dengan detail rumbai-rumbai di sekitarnya. Dia bergerak .... layaknya veteran.
Tetapi ketika Ivy menyadari satu hal, lantai yang telah di lewati oleh wanita itu, ada bercak darah. Jantungnya berdegup semakin kencang, ketika wanita itu berhenti melakukan gerakan-gerakan khas tari latin. “Aku... Lady Red, julukan yang pernah terkenal pada masanya,” ucapnya seraya tersenyum lebar. Wajahnya pucat pasi namun bibirnya merah bak dilapisi darah.
Lady Red berbalik badan, terlihat kaku namun tetap luwes.
Dia mulai bergerak, pinggulnya menyatu dengan cuban motion. “Mau bergabung?” ajak Lady Red dengan nada rendah namun tetap mendominasi ruangan. Ivy menggeleng keras. “M-maaf!” potongnya lalu cepat-cepat membuka knop pintu yang tak beruntungnya malah rusak. Lady Red tertawa keras, lampu berkedip cepat dari sebelumnya. Tiba-tiba kabut tipis menyelimuti sekeliling tubuh Ivy, dia langsung bertransformasi mengenakan gaun latin disertai sepatu flared. Tubuh Ivy langsung bergerak setelah kabut itu menghilang. Ivy meringis pelan, rasanya ingin menangis saja saat musik menyeramkan menyala di susul tubuhnya yang bergerak menuju babak akhir tanpa tujuan.
LADY RED

Tak kenal maka tak sayang, lalu siapa yang ingin berkenalan dengan sosok seperti si dia?
Apresiasi Pembaca
Silakan masuk untuk memberi rating dan komentar.
Claire Levana Asyura · ⭐⭐⭐⭐⭐
Alaikal firdaus · ⭐⭐⭐
tema yang dibawa cukup menarik krna memakai tema horor. ada konflik yang membuat ceritanya lebih seru, tapi di beberapa bagian ada penulisan yang agak membingungkan.
Ahmad Arifin · ⭐⭐⭐⭐⭐
Keren
Zharotul Zhitafebrianti Agustina · ⭐⭐⭐⭐⭐